AI vs Media Mainstream

Ini saya ketik manual, tanpa generate AI. Karena saya akan membahas secuil sisi baik dan buruk AI. Tulisan ini akan membahas gambaran AI bagaikan pisau bermata dua. Berdampak baik dan buruk tergantung penggunanya.

ai pisau bermata dua

Perkembangan

AI atau Artificial Intelligence adalah kelanjutan perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Istilah ini mulai gencar sejak lahirnya Chatgpt sejak tahun 2022, tapi pada dasarnya sistem ini sudah ada sejak lama tapi versi lebih advance.

Ingat ketika main game di Play Station 1, RRRRRRRRRRRRRRRRRRooooooobberrrto caaaaaaaaaarrrrlos! ketika bocah milenial bolos sekolah mampir ke rental PS, single player, maka ia akan menyebut dirinya maen ps melawan COM atau komputer. Itu sebenarnya sudah termasuk AI.

Di dunia website juga, AI telah lama dipakai. Biasanya digunakan untuk chatbot, hanya saja fiturnya lebih ke template yang sudah disetting sedemikian rupa oleh developer.

Di dunia fotografi atau videografi, recognition dari pola menjadi sebuah kode. Berlaku juga sebaliknya, sebuah kode dari prompt melakukan generate gambar atau animasi video yang sudah mencapai level realistic.

AI-2025

Saat artikel ini ditulis [Dec25] saya masih menilai AI masih sangat mentah dan rawan kesalahan.

Jika AI sangat berguna dan membantu sampeyan dalam melakukan tugas, selamat, berarti sampeyan adalah orang yang menjadi ‘kusir’ bukan sebagai ‘kuda’ yang manut saja sama AI. Selama untuk pekerjaan yang benar dan bertanggung jawab, itu jadi hal yang baik.

AI seperti ChatGPT, Gemini, Deepseek, dll sangat membantu pekerjaan yang sifatnya matematis dan pengetahuan umum. Misalkan ketika bikin laporan data, kita tidak perlu lagi mengingat sampai dibawa mimpi formula excel/spreadsheet. Pembuatan gambar / video atau merapikan artikel juga sangat membantu.

Namun bagi orang yang ‘gumunan’ justru akan berdampak buruk. Kok bisa?

Terutama untuk mencari informasi tentang sosial, politik, ekonomi yang aktual, saat ini AI bukan tempat mencari jawaban yang benar. Rata-rata jawaban dari mesin ini hanya gambaran umum dan kadang bikin asumsi yang nyeleneh.

Machine learning yang sekarang ada adalah pengembangan dari kumpulan hasil agreagator / scraping / crawling dari berbagai sumber. Namum masalahnya, sumber yang mesin ini kumpulkan dan pelajari bukan dari sumber yang akurat atau expert.

Saya sudah mencoba beberapa chat ai dan agent ai, mau itu pakai fast atau deepthink, entitas itu mengedepakan logical thinking, scraping. dan asumsi (else).

Misal, ketika ada seseorang menanyakan, “Partai politik mana yang paling jujur?”

Makan mesin itu akan melakukan gathering data, kemudian menampilkan data dari sumber, tapi kadang tidak menampilkan link rujukan.

Kemudian AI akan menjabarkan

Rekam jejak kader (seberapa sering mereka terlibat korupsi)

Transparansi keuangan dan administrasi (apakah mereka terbuka kepada publik).

Konsistensi janji politik

Dan ketika kita ikuti terus, maka jawabannya hanya rangkuman dari berbagai sumber entah dari mana. Ketika AI tidak mendapatkan sumber, akhirnya mesin itu akan membuat asumsi untuk output dari prompt yang telah kita berikan.

Data peristiwa, sosial, dan ekonomi pun juga begitu.

AI adalah parasit bagi publisher.

Kadang sulit mencari informasi yang akurat, tapi setidaknya ada kanal berita online yang bisa kita temukan di Indonesia. Misalnya Republika, Tempo, Detik, Kompas, Liputan6, iNews, dsb. – sebagai media online yang sudah mematuhi kode etik jurnalistik dan memiliki kredibilitas dalam penyampaian informasi.

Duel media mainstream vs AI sudah berlangsung lama. Sekitar 2008, saya sering mendapati banyak sekali konten berita dengan domain tidak jelas, konten banyak dalam sekali waktu, tapi nyomot dari sumber berita online menggunakan bot. Istilah ini disebut “auto generate content”. Mereka mendapatkan trafik karena melakukan keyword stuffing.

Sekitar 2013, google melakukan pengembangan algoritma yang disebut Hummingbird. Bisa dibilang algoritma ini sudah berbasis AI, karena sesorang tidak harus mengetikkan kata kunci yang tepat untuk mencari sebuah konten di internet.

Saya ingat tahun 2019, ketika James Riyadi (CEO Lippo) megatakan “Digital Sudah Kuno, Sekarang Bicara AI” ketika menanggapi tentang teknologi informasi di Indonesia. Saat itu kebanyakan media menarasikan konsep digitalisasi. Yup, benar, sebenarnya untuk kalangan tertentu AI bukan hal yang baru untuk saat ini.

Beberapa media online banyak sekali yang tumbang. Ada yang tutup, ada yang hidup segan mati tak mau. Ada juga yang tetap kokoh, bahkan semakin kuat. Misalnya Kompas yang punya sebaran lini berbagai platform. Kompas Gramedia memiliki kredibilitas yang tinggi, maka mereka tidak memuat berita receh, nah yang recehan dan clik-bait lempar ke anaknya, Tribunnews. Kerja bagus!

Sekarang para media mainstream benar-benar menjaga ketat ‘rumahnya’ dari parasit yang disebut AI ini. Mereka menerapkan penjaga pintu masuk supaya artikel atau konten tidak dirayapi oleh AI. Untuk mengecek ‘satpam’, sampeyan bisa cek dengan menambahkan tulisan robots.txt

contoh: https://tempo.co/robots.txt

maka akan muncul seperti ini:

# robots.txt
User-agent: *
Disallow:
Allow: /
User-agent: Googlebot
Disallow: /api/
User-agent: Googlebot
Disallow: /search/
User-agent: Googlebot
Disallow: /index/
User-agent: Twitterbot
Allow: /
User-agent: facebookexternalhit
Disallow:
Allow: /
User-agent: grapeshot
Disallow: /

# others
User-agent: ChatGPT-User
Disallow: /
User-agent: OAI-SearchBot
Disallow: /
User-agent: GPTBot
Disallow: /
User-agent: OpenAI
Disallow: /
User-agent: NewsNow
Disallow: /
User-agent: news-please
Disallow: /
User-agent: OAI-SearchBot
Disallow: /
User-agent: omgili
Disallow: /
User-agent: omgilibot
Disallow: /
User-agent: peer39_crawler
User-agent: peer39_crawler/1.0
Disallow: /
User-agent: PerplexityBot
Disallow: /
User-agent: Perplexity‑User
Disallow: /
User-agent: Quora-Bot
Disallow: /
User-agent: Scrapy
Disallow: /
User-agent: Timpibot
Disallow: /
User-agent: TurnitinBot
Disallow: /
User-agent: YouBot
Disallow: /
User-agent: GPTBot
Disallow: /
User-agent: Amazonbot
Disallow: /
User-agent: anthropic-ai
Disallow: /
User-agent: AwarioRssBot
Disallow: /
User-agent: AwarioSmartBot
Disallow: /
User-agent: Bytespider
Disallow: /
User-agent: CCBot
Disallow: /
User-agent: ClaudeBot
Disallow: /
User-agent: Claude-User
Disallow: /
User-agent: Claude-SearchBot
Disallow: /
User-agent: Claude-Web
Disallow: /
User-agent: DataForSeoBot
Disallow: /
User-agent: Diffbot
Disallow: /
User-agent: FacebookBot
Disallow: /
User-agent: magpie-crawler
Disallow: /
User-agent: cohere-ai
Disallow: /
User-agent: Applebot
Disallow: /


Sitemap : https://www.tempo.co/sitemap_index.xml

Masalah Serius

Tanya ke AI akan menjadi masalah serius jika mekanisme masih dengan cara scraping. Apalah mencari informasi tentang peristiwa sensitif menyangkut kedaulatan negara.

Kekhawatiran itu jika bot AI tidak dapat menampilkan informasi aktual dari media mainstream, tapi tetap menampilkan dari scraping dari web/sosmed/plaftorm lainnya secara random dan tidak perlu validasi.

Gimana guys, sudah dapat gambaran kenapa AI masih banyak informasi peristiwa yang meragukan?

Tentu harus bijak dalam menggunakan AI dan selalu melakukan crosscheck secara insight untuk informasi yang aktual.

Sebagai penutup, saya tambahkan video yang relevan.